Meluruskan Makna Maghfiroh
Oleh Anwar Rozak
Kaum muslim, untuk sejenak betapa menyedihkan sekali bila Indonesia masih konsisten menjadi negara korup bila menyimak laporan Lembaga Transparansi Internasional. Ini terlihat, dari ribuan kasus korupsi yang terjadi, dan triliunan rupiah diambil para koruptor.
Permasalahan sosial lainnya yang juga masih banyak di kalangan bangsa ini meliputi, kekerasan, pencurian, perzinahan, pemerkosaan dan segudang permasalahan lain. Anehnya lagi, permasalahan-permasalahan tersebut muncul justru di negara yang mayoritas penduduknya muslim na’udzubillahi min dzalik.
Lalu, pernahkan kita mempertanyakan, mungkinkah ini disebabkan kesalahan penafsiran kata maghfirah yang banyak disebutkan Allah SWT dan RasulNya. Ataukah pemahaman makna yang tidak komprehensif dari kata maghfirah yang hanya diartikandengan ampunan atau bahkan penghapusan dosa. Sehingga, pendosa dengan mengucapistighfar saja sudah bisa terampuni atau bahkan terhapus dosanya sama sekali.
Bulan Ramadhan kita kenal sebagai syahrul maghfirah (bulan ampunan), karena di bulan inilah Allah SWT berkenan memberikan maghfirah-Nya dengan sangat murah kepada para hamba-Nya yang mau bertaubat. Dan bagi mereka yang sudah memperolehmaghfirah-Nya, tak ada balasan lain selain surga. Sehingga seolah-olah Allah men-discount surga-Nya di bulan ini.
Rasulullah bersabda Dari Abu Hurairah ra. Rasulullah SAW bersabda: ”Barangsiapa mengerjakan ibadah (qiyam) pada malam lailatul qodar karena iman dan mencari ridha Allah SWT semata, maka diampunilah dosanya yang telah lalu, dan barasiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mencari ridha Allah SWT semata, maka diampunilah dosanya yang telah lalu.” (Shahih Bukhori, 1901)
Berlimpahnya maghfiroh dari Allah SWT ini memang tidak mengherankan, mengingat Allah SWT memiliki sifat al-Ghaffar. Maka, agar kita lebih meyakini makna sifat Allah SWT tersebut, sungguh akan lebih menarik bila kita membedah makna al-Ghaffar.
”Al ghaffar” dalam bahasa Arab berasal dari akar kata ”Ghafara" yang artinya ”menutup”. Ini berarti Dia menutupi dosa hamba-hamba-Nya karena kemurahan dan anugerah-Nya. Ada juga yang berpendapat dari kata ”Al ghafaru” yakni: sejenis tumbuhan yang digunakan untuk mengobati luka. Ini berarti, Allah SWT menganugerahi hamba-Nya penyesalan atas dosa-dosa, sehingga penyesalan ini berakibat kesembuhan, yakni terhapus dosa.
Sedangkan menurut Imam Al-Ghazali, ”Al-ghaffar” bukan sekedar berarti Maha Pengampun dosa, karena makna sebenarnya adalah Maha Menutupi. Allah SWT dengan nama-Nya itu menutupi hal-hal yang buruk dalam diri manusia dengan sesuatu sehingga manusia nampak indah:
- Wajah manusia yang kurang indah, ditutupi oleh Allah SWT dengan kulit wajah yang halus sehingga nampak indah. Bisa kita bayangkan apabila wajah kita diciptakan tanpa kulit wajah. Isi perut manusia bermacam-macam. Tidak bisa kita bayangkan apabila manusia tercipta tanpa penutup perut.
- Dalam batin manusia terdapat keburukan-keburukan. Allah SWT menciptakan hati. Dengan demikian, keburukan-keburukan bisa tertutupi. Sebab bila orang lain mengetahui keburukan batin kita, kacaulah dunia ini. Seorang yang curiga dan buruk sangka kepada saudaranya, tetap bisa berhubungan mesra. Sebab keburukan batin berupa buruk sangka ditutupi oleh Allah SWT dalam hatinya. Sehingga hanya Dia dan diri sendiri yang tahu.
- Dalam diri manusia terdapat dosa. Sedangkan dosa itu penyakit dan Allah SWT menyembuhkannya dengan cara menutupinya, asal manusia bertaubat. Mereka ini orang-orang baik yang disukai Allah SWT. Dalam hal ini orang yang baik itu bukan mereka yang tak pernah melakukan perbuatan dosa. Sebab hanya Nabi dan Rasul-Nya yang tidak pernah melakukan dosa. Orang yang baik ialah orang yang di kala melakukan dosa, ia menyadari kesalahannya. Berikutnya ia bertaubat kepada Allah SWT.
Akhirnya, kalaulah saja kita bisa memahami kata ghafara secara lebih bijak, kata ”menutup” dan menghapus disini bukannya menghilangkan tanpa bekas. Catatan dosa tak akan pernah terhapus oleh petugas pencatat amal. Raqib dan Atid memerlukan catatan amal sebagai bahan laporan perjalanan hidup manusia kepada Sang Pemberi Mandat. Catatan amal itu juga dibutuhkan di saat mizan (penimbangan amal) dilaksanakan oleh Allah SWT.
Catatan dosa masih tetap utuh, sementara prestasi istighfar manusia diwujudkan dalam bentuk catatan amal shalih. Bila bobot taubatnya melebihi kadar dosanya, maka sang pendosa dihapuskan dosanya. Malah ia menerima saldo pahala, setelah pemasukan pahala taubat dikurangi pengeluaran dosa kejahatannya.
Hal itu sebagaimana firman Allah SWT berfirman: ”Dan janganlah engkau mengikuti apa yang engkau tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawaban.” (QS. Al-Isra’: 36)
Allah a’lam bis showab.
Anwar Rozak, S.PdI adalah Guru Bahasa Arab di SMP Islam Terpadu PAPB Semarang
Good
ReplyDeleteGood pa ndak ya?
ReplyDelete